LOOP
DAILY LIFE

Mengenal Proses Terbentuknya Cumulonimbus, Awan Pembawa Hujan dan Petir

Awalnya, cumulonimbus merupakan awan cumulus yang tercipta akibat adanya udara yang naik dan mengembun di langit.

Bayu Bahrul | 05 January 2019

Beberapa hari lalu, masyarakat Makassar sempat dibuat heboh dengan kemunculan awan cumulonimbus yang bentuknya hampir mirip dengan gelombang tsunami. Awan tersebut menyelimuti langit Kota Makasar, tepatnya di dekat Bandara Internasional Sultan Hasanudin. Awan cumulonimbus itu mengakibatkan 5 pesawat yang hendak mendarat harus menunggu cuaca kembali kondusif.

Dari foto dan video yang beredar di internet, kita melihat betapa mengerikannya awan cumulonimbus di Makassar. Mungkin Loopers juga penasaran bagaimana sih proses terbentuknya awan cumulonimbus, dan apa saja dampaknya bagi lingkungan?

Cumulonimbus berasal dari bahasa Latin “Cumulus” yang artinya “Tumpukan,” dan “Nimbus” yang berarti “Hujan badai.” Awalnya, cumulonimbus merupakan awan cumulus (awan yang menggumpal di langit) yang tercipta akibat adanya updraft (udara yang naik) dan mengembun di langit. Awan cumulus bisa berkembang melalui kondensasi. Dalam tahap ini, udara di dalam awan jadi lebih hangat daripada udara di sekitarnya. Nah, ketidakstabilan udara memicu awan cumulus untuk tumbuh secara vertikal.

Sumber: sciencestruck.com

Udara yang bergerak ke atas menjaga tetesan air dan kristal es terperangkap di dalam awan. Ketika awan terbentuk ke ketinggian di mana suhu di bawah titik beku, curah hujan besar dan hujan es kecil mulai terbentuk. Akhirnya, air hujan yang menumpuk tak mampu lagi ditahan oleh udara yang bergerak ke atas dan turun ke bumi. Air hujan, penguapan, serta pendinginan udara di dekat batas awan menciptakan downdraft (aliran udara yang bergerak ke bawah).

Dalam tahap ini, updraft dan downdraft memicu terjadinya badai petir di dalam awan. Awan cumulonimbus akan semakin meninggi hingga menyentuh statosfer. Bagian atas awan akan semakin menyebar dan membentuk seperti landasan. Kilat, petir, hujan lebat, dan hujan es kemungkinan bisa dihasilkan pada tahap ini.

BACA JUGA: Mengintip Desain Seragam Sekolah dari Bebagai Negara, Mana yang Paling Bagus Nih?

Di tahap terakhir, aliran udara ke atas semakin melemah. Sebaliknya, aliran udara ke bawah akan menghasilkan sambaran-sambaran petir. Tapi biasanya, badai petir tak berlangsung lama di tahap akhir ini, sebab aliran udara ke atas berhenti memasok “bahan bakar” petir, yakni udara hangat dan lembap dari permukaan bumi.

Yup, awan cumulonimbus memang bisa menghasilkan hujan dan petir. Tapi pada kasus di Makassar, para ahli menganggap kalau awan tersebut bukan hanya sekadar cumulonimbus biasa, tapi gabungan dari beberapa jenis awan. Kekuatan angin di dalam awan tersebut sangatlah kuat, dan sangat berpotensi mencelakai pesawat yang melaluinya.

Share pendapatmu di kolom komentar, ya!

Supaya internetannya makin lancar, yuk aktifkan paket internet Loop kamu! Caranya, klik link ini.

Bagaimana perasaan kamu tentang artikel ini?
MARAH!
2
KAGET
3
SEDIH
3
TAKUT
2
LUCU
0
SENANG
0
SUKA
4
TERINSPIRASI
17
Komentar
0