LOOP
Cerpen

Harta Karun di dalam Novel

Harta karun biasanya selalu berbentuk uang dan emas. Tapi ternyata kamu malah menemukan kejujuran.

Yoga Akbar Sholihin | 18 April 2019

Menunggu kedatangan kurir yang membawa barang pesananku, khususnya buku-buku, entah kenapa ada keasyikan tersendiri. Aku bisa menantinya dengan membaca buku juga agar tidak terasa lama. Sejak memasuki masa kuliah, minatku dalam membaca buku bertambah sedikit demi sedikit. Ya, meskipun bacaanku dominan berbentuk kumpulan cerpen dan novel. Namun, hampir setiap hari rasanya aku butuh bacaan.

Sayangnya, kondisi keuanganku begitu pas-pasan karena masih mendapatkannya dari orang tua dan harus menunggu kirimannya setiap awal bulan. Lebih-lebih aku bukan berasal dari orang berada, sehingga jatah jajanku cuma untuk makan, transportasi, bayar sewa indekos, dan keperluan kuliah. Mau tak mau, aku pun hanya bisa membaca buku-buku lama yang ada di rak. Jika kuingat-ingat, sudah jarang sekali aku membeli buku-buku baru. Sekalipun membelinya, pasti ketika ada bazar atau promo supaya mendapatkan diskon dan, tentu saja, lebih murah.

Berbicara soal kurir dan buku, hari ini aku sedang menunggu paket pesananku tiba. Aku baru saja menemukan alternatif untuk membeli buku ketika keuangan ala kadarnya. Dua hari sebelumnya, ketika sedang membuka Twitter, aku tidak sengaja melihat sebuah twit—yang diretwit oleh salah seorang temanku—berisikan gambar beberapa buku; buku pengembangan diri, novel, kumpulan cerita, serta puisi. Intinya, orang itu sedang menjual buku-buku bekas. Aku senang karena banyak buku-buku lama yang menurutku bagus. Ini seakan-akan aku sedang menemukan harta karun.

Nama pemilik akun itu Farah. Aku memanggilnya “Kak Farah” karena dia lebih tua dariku. Dari mana aku tahu? Di fotonya dia memakai pakaian khas wanita karier dan di bionya tertulis wife. Berhubung aku memang berniat membelinya, aku langsung mengikuti akunnya dan menanyakan harga buku-buku tersebut. Kak Farah membalas pertanyaanku dan memberikan kontak WhatsApp melalui DM supaya tanya-tanyanya lebih enak. Begitu kukontak, sayangnya beberapa buku yang aku inginkan telah terjual. Jadinya, aku hanya memilih dua buku.

“Nggak beli tiga aja? Kalo beli tiga, nanti aku gratisin ongkos kirimnya. Hehe.”

Akhirnya, aku bertanya-tanya lagi apa aja stok bukunya dan memilih satu lagi. Itu semua demi bisa mendapatkan ongkos kirim gratis. Lumayan untuk penghematan.

“Jadi ini totalnya berapa, Kak?” tanyaku di WhatsApp.

“Enam puluh ribu.”

Mantap. Aku bisa membeli tiga buah buku semurah itu, padahal biasanya cuma mendapatkan sebuah jika membeli baru. Walaupun itu buku bekas, tapi aku yakin kondisinya masih baik, sebab begitulah yang terlihat di fotonya.

“Eh, ini beneran gratis ongkir, kan?” aku kembali memastikannya.

“Iya.”

Wah, Kak Farah baik juga, ya, pikirku.

*

Sumber: pexels.com

Ketika sedang seru membaca novel sembari menunggu kedatangan kurir begini, aku mendadak teringat suatu cerita yang terjadi saat aku kelas 11 SMK, empat tahunan lalu. Bedanya, aku sedang tidak menunggu apa-apa saat itu. Kala sedang terhanyut dalam kisah di  novel itu, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku memilih untuk mengabaikannya dan tetap lanjut membaca.

Aku agak malas diganggu saat lagi fokus membaca. Tapi ponsel itu berdering terus-menerus, tanda ada panggilan masuk. Akhirnya, aku pun mengecek ponsel itu. Terdapat panggilan dari Indra Purnama, teman sekelasku. Aku pun segera mengangkatnya.

“Halo, Dim,” kata Indra. “Gue boleh minta tolong?” suaranya terdengar begitu panik.

“Boleh aja. Kenapa deh?”

“Sebelumnya, lu lagi sibuk nggak nih? Kalo lagi sibuk, mending nggak usah. Entar malah ngerepotin.”

Aku bisa saja menjawab, “Duh, sori gue lagi sibuk banget. Lagi cari duit buat ngeberangkatin Mak Ijah ke Mekkah. Maaf ya, Ndra.”

Namun, aku tidak bisa berbohong dan bercanda kayak begitu. Aku berusaha mengatakan, “Nggak, kok. Santai.” Meskipun pada kenyataannya Indra telah mengganggu waktu santaiku. Aku hanya ingin mencoba ada di saat temanku sedang membutuhkan bantuan. Selama bantuan itu tidak memberatkan diriku.

“Jadi gini ....” Indra mulai bercerita mengenai masalahnya.

*

“Nih, Ndra,” kataku menyerahkan sebuah flashdisk  kepada Indra di Warnet Batavia, di sekitaran kampus Binus, Jakarta Barat.

Indra baru saja kehilangan flashdisk-nya. Ia sedang mengerjakan tugas di warnet karena belum memiliki komputer atau laptop sendiri. Tapi karena warnet itu ternyata printer-nya sedang rusak dan dia sudah kadung membayar dua jam, maka Indra pun memilih untuk bermain online games.

Bermain games memang godaan yang sulit dicegah ketika sedang mengerjakan tugas.

Begitu jam sewanya sudah habis, Indra pun buru-buru mencari warnet lain untuk melanjutkan dan mencetak tugasnya. Bodohnya, flashdisk miliknya masih tertinggal di CPU warnet sebelumnya.

Setelah menyadari kalau flashdisk-nya tertinggal, Indra segera kembali ke warnet itu. Tapi begitu sampai di tempatnya semula, flashdisk itu telah lenyap. Ia langsung bertanya kepada orang yang menempati bilik nomor 6—bilik yang Indra sewa tadi. Lalu orang itu menjawab tidak tahu. Indra juga menanyakan flashdisk  ke operator warnetnya, tapi operator itu pun bilang tidak tahu. Dengan rasa putus asa, Indra meneleponku untuk meminjam flashdisk.

“Parah, kan! Padahal itu cuma flashdisk, Dim.”

“Cuma?” tanyaku. “Bukannya itu lumayan harganya kalo dijual?”

Kala itu, harga flashdisk memang tidak semurah sekarang. Yang 4 GB kalau tidak salah masih sekitar 100-150 ribu. Nilai yang lumayan bagi seorang murid SMK.

“Iya, sih. Itu senilai uang jajan gue dua minggu.”

“Ya udahlah. Ikhlasin aja. Mungkin belum rezeki,” kataku sok memberinya nasihat.

Indra awalnya terdiam sebentar, lalu tak lama bilang, “Tapi di situ masih ada foto berdua gue sama Rani, Dim. Foto-foto yang di HP udah gue hapus semua soalnya.”

Tadinya, aku ingin bilang, “Lu masih belum move on dari dia? Itu tandanya emang lu harus ngelupain dia.” Namun, niat itu aku urungkan dan memilih diam saja.

Sebelum kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, Indra pun menyimpulkan sesuatu setelah kejadian barusan, “Zaman sekarang ini orang baik dan jujur udah jarang, ya.”

Aku bingung harus merespons apa. Akhirnya, aku hanya tersenyum dan melangkahkan kaki ke rumah.

*

Aku jadi kepikiran dengan kesimpulan Indra itu. Apa benar orang baik dan jujur sudah langka?

“Permisi, paket. Paket untuk Dimas Pratama.” Teriakan suara kurir itu membuyarkan lamunanku. Akhirnya, apa yang kutunggu-tunggu itu tiba. Aku segera melupakan pertanyaan itu, bergegas keluar rumah, dan menerima bingkisan.

Saat paket itu kubuka, kondisi buku-bukunya pun masih sangat bagus sesuai yang ada di gambar. Aku langsung ingin menghirup aromanya. Aku pun membuka satu per satu ketiga buku yang kubeli itu. Menciumi aroma kertas memang kesenangan tersendiri untukku.

Sumber: Pexels

Namun, ada yang tidak beres di sini. Aku kaget bukan main. Aku pun mengambil ponsel dan mengontak Kak Farah.

“Kak, bukunya udah sampe nih. Makasih, ya.”

“Oke, sama-sama.”

“Btw, ada yang salah nih.”

“Salah apa? Aku salah kirim bukunya?”

Aku pun menjelaskan sebuah kesalahan yang terjadi itu.

“Hah? Seriusan? Di mana?” tanya Kak Farah.

“Serius,” kataku seraya mengirimkan sebuah foto.

“Duh, salahku nih. Aku nggak ngecek-ngecek dulu kemarin pas ngirim. Suamiku pasti yang nyelipin. Maafkan, ya. Jadi merepotkan kamu.”

“Nggak apa-apa, kok. Santai aja.”

Sekitar lima menit sebelumnya, aku menemukan uang yang terselip di salah satu buku itu. Jumlah uangnya lumayan banget. Dua ratus ribu. Gila, beli bukunya cuma 60 ribu dan udah termasuk ongkos kirim, eh begitu bukunya sampai aku malah mendapatkan bonus. Rezeki banget ini mah. Bisa buat makan dan jajan semingguan lebih untuk mahasiswa sepertiku. Mimpi apa aku semalam?

Namun, di hari itu, entah kenapa ada suara di hati kecilku untuk berbuat baik. Bisikan nurani untuk mengembalikan uang tersebut. Hal yang sungguh tidak biasa, sebab biasanya: “Ayo maksiat, Dim!”

Biar bagaimanapun, aku masih merasa bimbang.

Dua ratus ribu loh, Dim. Lumayan banget. Lu bisa makan nasi padang selama seminggu. Perbaikan gizi.

Tapi hati kecilku masih tetap menyuruh untuk mengembalikannya. Karena uang itu memang bukan milikku.

Orangnya kagak tahu ini. Santai, Dim!

Lagi-lagi, suara hati kecilku menolak untuk berbohong. Bukankah masih ada Tuhan yang Mahatahu?

Yaudah, balikin aja yang seratus. Seratus lagi buat lu. Jadinya fifty-fifty.

Diriku pun sudah sepenuhnya tersadar. Ini duit memang bukan hakku. Itu milik Kak Farah. Aku yakin Kak Farah orang yang baik, buktinya dia memberikanku kebaikan kecil berupa ongkos kirim gratis. Tidak sepantasnya dia mendapatkan balasan yang buruk. Aku pun mengatakan hal ini ke Kak Farah sejujur-jujurnya.

 “Udah saya transfer ya, Kak.” Aku mengirimkan pesan itu berikut bukti transfernya.

“Nuhun sangat, ya. Maaf sekali lagi, udah merepotkanmu. Btw, ini aku lagi kasih tau suamiku, dia malah kaget. We’re glad ditemuinnya sama orang baik.”

“Udah sewajarnya kok, Kak.”

“Semoga karma baiknya selalu menyertai kamu.”

“Aamiin.”

Kejadian ini sungguh membuatku berpikir, apakah yang barusan ini nyata? Ini bukan cerita di dalam novel ataupun cerita fiksi lainnya yang kerap kubaca? Aku tersenyum kembali ketika membaca pesan dari Kak Farah. Ada perasaan lega dan menyenangkan sehabis berbuat baik. Bahagia ternyata sesederhana itu.

Pikiran tentang berbuat baik itu otomatis membawaku ke memori tentang Indra yang saat itu menyimpulkan, bahwa zaman sekarang orang baik dan jujur itu sudah jarang. Aku kini bisa merespons perkataannya, “Kalau memang udah jarang, kenapa kita nggak mencoba menjadi salah satunya?”


Cerpen adalah salah satu konten dari LOOP yang dibuat sebagai wadah promosi bagi anak muda Indonesia yang punya passion menulis dan berani menerbitkan karya cerita pendek tersebut. LOOP memilih karya tulis mereka yang layak di beberapa media digital, kemudian menerbitkan ulang di website loop.co.id atas persetujuan penulis.

Nah, pengen karya tulis kamu diterbitkan di website loop.co.id seperti dia? Kirim contoh karya tulis kamu via email ke: loop-content@insidea.net dengan subject: CERPEN

Tentang Penulis

Whatsapp image 2019 03 28 at 13.31.51

Yoga Akbar Sholihin

Yoga Akbar Sholihin yang berkuliah di Universitas Pamulang merupakan anak muda yang terpilih mengisi konten Cerpen LOOP edisi perdana. Kamu bisa kepoin Yoga, panggilan akrabnya, di sosial media twitter dan instagram, @ketikyoga 

Cerpen Terbaru
FAQ Flash Deal 20 September 2022
Master Admin | 20 September 2022
0
FAQ Ilmupedia Creative Class
Master Admin | 07 September 2022
0
FAQ dan Syarat Ketentuan Paket Surprise Deal 03-04 September 2022
Master Admin | 02 September 2022
0
Bagaimana perasaan kamu tentang artikel ini?
MARAH!
4
KAGET
7
SEDIH
12
TAKUT
13
LUCU
15
SENANG
14
SUKA
25
TERINSPIRASI
16
Komentar
5
Screenshot 20200320 222223
surya nirtika
27 April 2020
Waw... cerita nya mengharu kan sekali guys. aku sangat suka ni cerita.
Profile friends default
telkomsel
10 December 2019
Aku juga suka membuat video youtube
Profile friends default
anonymous
05 November 2019
Mantab
Profile friends default
anonymous
24 May 2019
Profile friends default
Lulu Syifa Fauziah
28 April 2019
Minatku membaca juga semakin bertambah setelah bertemu teman-teman yang sama suka membaca. Bahkan setelah punya uang sendiri, aku punya anggaran sendiri buat beli buku tiap bulan dan manfaatin promosi atau diskon gratis ongkir juga dari penjual toko online. Omong-omong, ceritanya bagus. Mengingatkan kita untuk jadi manusia jujur. Keren!