LOOP

Cerpen

Es Krim Rasa Cinta

Dari sebongkah es krim, kita bisa menemukan bentuk cinta dan rasa syukur yang terdalam

Yoga Akbar Sholihin | 01 March 2019

Seperti malam-malam biasanya, jika di rumah sudah kehabisan lauk, Irfan selalu mencari makanan di luar dengan menaiki sepedanya. Lagi asyik menggowes, Irfan melihat nenek-nenek berumur 60 tahunan sedang duduk di pinggiran jalan, persis di dekat pintu masuk sebuah komplek. Tubuh nenek itu lebih kurus darinya. Yang Irfan tidak sangka, ternyata nenek itu tidak cuma duduk, melainkan sedang berjualan es krim.

Irfan yang awalnya tidak kepengin es krim, mendadak muncul hasrat untuk membelinya. “Nek, es krimnya satu,” ujarnya. Nenek itu diam saja. Mungkin pendengarannya sudah kurang baik. “Nek?” Irfan memanggilnya sekali lagi.

Nenek itu pun akhirnya menengok dan bilang, “Ya, mau beli es krim, Dek?”

Raut wajah nenek itu berubah ceria. Irfan otomatis tersenyum, mengangguk, dan menjawab iya. Setelah es krimnya disajikan di mangkuk kecil, Irfan segera menyerahkan selembar uang 20.000. Es krimnya seharga 3.000.

“Nggak ada uang kecil, Dek?” tanya nenek itu.

“Yah, nggak ada.”

Irfan tidak membawa dompet dan itu uang satu-satunya yang ada di kantong celana pendeknya. Ia memaki dirinya dalam hati, bodoh. Kenapa setiap kali gowes malam-malam, ia pasti selalu membawa duit selembar. Ia nggak pernah membawa dompet. Namun, ia kemudian teringat uang di dompetnya yang semakin menipis. Untuk apa pula bawa-bawa dompet?

Saat ini status Irfan adalah pengangguran. Sudah enam bulan ini ia tidak memiliki pemasukan lagi sejak kontrak kerjanya di suatu perusahaan telah habis. Ia belum mendapatkan lagi pekerjaan baru, padahal sudah mencoba melamar ke mana-mana. Entah karena tidak dipanggil sama sekali, gagal saat psikotes, interviu HRD, ataupun wawancara tahap akhir dengan user. Sekalinya ia diterima, gajinya terlalu di bawah standar, bahkan cuma setengah dari nilai yang diberikan tempat bekerjanya dahulu. Ia pun mengikhlaskan pekerjaan itu. Irfan bukannya menolak rezeki, ia hanya ingin mendapatkan bayaran yang layak. Hingga akhirnya, ia memilih berhenti sejenak untuk mengirimkan lamaran.

Sumber: Pexels

Terlepas dari keadaannya itu, ia jadi merasa tidak enak sama si nenek penjual es krim. Ia sudah merepotkan beliau. Nenek itu pun berupaya mencari-cari uang di dompet kecilnya. Irfan melihat uangnya lima ratusan, seribuan, dua ribuan, dan lima ribuan. Benar-benar nggak ada sepuluh ribuan, dan lima ribunya cuma satu.

Nenek itu kemudian menyerahkan kembaliannya. Irfan menghitungnya. Kembaliannya kurang dua ribu. Irfan mengucapkan terima kasih dan pura-pura uangnya pas. Irfan tidak tega meminta uang kembalian yang kurang itu. Sebetulnya, di hati Irfan juga terdapat keinginan untuk memberikan semua uangnya kepada nenek itu. Tapi ia sudah telanjur memesan ketoprak seharga 13.000, sebelum melihat si nenek. Ia pun sekarang mulai menuju lokasi tempat ia membeli ketoprak. Mungkin ia bisa membantunya lagi di hari lain.

Ia sangat paham bagaimana susahnya mencari uang. Toh kalau mudah, tidak mungkin ia masih setia menjadi pengangguran. Tapi bagaimana kalau  hal itu terjadi karena Irfan yang kurang berusaha dengan maksimal?

Sewaktu ia menemukan seorang nenek-nenek yang sudah renta begitu masih mau berjualan, ia resah memperhatikan masih banyak orang yang lebih muda tapi memiliki mental pengemis. Cukup dengan menengadahkan tangan dan memasang muka tembok dan berjalan dari satu rumah ke rumah lain. Apalagi orang-orang yang beberapa kali pernah ia temui di kopaja, metromini, atau angkutan umum lainnya. Mereka hanya mengandalkan kalimat: “Bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak para penumpang, daripada saya mencuri, lebih baik ... blablaba.”

Masih muda kok bermalas-malasan saja kerjanya. Masih muda hobinya berfoya-foya memakai uang orang tua. Lebih-lebih buat para pejabat yang koruptor, apakah mereka tidak malu dengan nenek ini? Melihat buruknya orang lain memang mudah, Irfan tidak sadar dirinya mungkin juga termasuk pemalas. Ia pun jadi heran dengan dirinya sendiri

Mungkin saja Irfan masih termasuk kurang berusaha dan bersyukur dalam menjalani hidup. Ia terkadang masih mudah putus asa dan banyak leyeh-leyehnya. Sehabis kejadian ini, ia ingin mengubah kebiasaan-kebiasaannya yang suka menunda-nunda waktu itu.

Sehabis membayar ketoprak dan pulang menuju rumah, entah kenapa di pikirannya itu muncul kalimat dari Pidi Baiq di buku Drunken Molen, “Meskipun nenek itu sudah tua, beliau tetap berusaha dan bekerja. Demi bisa membantu meringankan beban pemerintah. Agar para pemerintah nggak perlu repot-repot lagi untuk mikirin nasib orang-orang seperti beliau.”

Ia marah terhadap dirinya. Ia jadi ingin memiliki semangat sebagaimana nenek itu. Jika sudah tua kelak, ia tidak ingin mengharap belas kasihan orang lain. Sekalipun itu adalah anak-anak dan cucu-cucunya. Ia ingin tetap mandiri. Berarti ketika masih muda begini, ia tidak boleh malas-malasan terus. Ia perlu menyiapkan tabungan untuk jaminan hari tua. Ia besok mesti menyiapkan lamaran dan mencari pekerjaan lagi. Agar ia bisa menyisihkan sebagian gajinya nanti untuk berbagi kepada orang-orang seperti si nenek penjual es krim.

Malam itu Irfan seolah-olah menemukan varian rasa baru dari sebuah es krim. Es krim rasa cinta. Es krim paling enak yang pernah ia makan. Es krim dengan harga murah yang memiliki nilai mahal.


Cerpen adalah salah satu konten dari LOOP yang dibuat sebagai wadah promosi bagi anak muda Indonesia yang punya passion menulis dan berani menerbitkan karya cerita pendek tersebut. LOOP memilih karya tulis mereka yang layak di beberapa media digital, kemudian menerbitkan ulang di website loop.co.id atas persetujuan penulis.

Nah, pengen karya tulis kamu diterbitkan di website loop.co.id seperti dia? Kirim contoh karya tulis kamu via email ke: loop-content@insidea.net dengan subject: CERPEN.

 

Tentang Penulis

Whatsapp image 2019 03 28 at 13.31.51

Yoga Akbar Sholihin

Yoga Akbar Sholihin yang berkuliah di Universitas Pamulang merupakan anak muda yang terpilih mengisi konten Cerpen LOOP edisi perdana. Kamu bisa kepoin Yoga, panggilan akrabnya, di sosial media twitter dan instagram, @ketikyoga 

Bagaimana perasaan kamu tentang artikel ini?
MARAH!
7
KAGET
13
SEDIH
23
TAKUT
18
LUCU
18
SENANG
20
SUKA
23
TERINSPIRASI
31
Komentar
9
Profile friends default
anonymous
26 August 2020
Suka suka
Profile friends default
anonymous
31 July 2020
Profile friends default
<b>a</b>
17 April 2019
<b>a</b>
Profile friends default
<b>a</b>
17 April 2019
a>
Profile friends default
<b>a</b>
17 April 2019
a
1552518805288
Herdito Wahyu
02 April 2019
Tambahin gambar dooong biar makin mendalami hehehe
1552518805288
Herdito Wahyu
02 April 2019
Tambahin gambar dooong biar makin mendalami hehehe
Wdoqyqi
Andita A
02 April 2019
aku sedih bacanya
7e596388 4df6 4275 895c 83dc003c43ce
Putri
02 April 2019
Ceritanya bagus, makasih